Tentang Habibie Dan Ainun
Kata Ibu, film ini sih bukan untuk anak-anak. Tapi, tetep aja ngotot ke Ibu pengen nonton. Walau sembari misuh2, ternyata Ibu baik juga ngizinin nonton film yang emang genre nya untuk remaja ini. Sejak nonton trailer nya, aku bener-bener tergila-gila banget pengen nonton film yang satu ini. Aku, yang tidak pernah keluar negeri, pengen bisa melihat negara Jerman walau hanya dari sebuah film.
Kata Ibu, Jerman itu indah ! Soalnya, waktu beliau muda, beliau pernah tinggal di Jerman bersama Kakek walau hanya sebentar. Dan film ini syutingnya di Jerman lho. Dan setelah melihat trailer film ini di negara Jerman, aku setuju dengan pendapat Ibu yang bilang, kalau Jerman memang indah ! Hi hi hi hi hi.........
Film ini mengangkat kisah cinta sejati antara dua anak manusia yang dipertemukan Tuhan untuk saling mencintai. Prof.DR.Ing.Habibie adalah ahli pembuat pesawat dengan menggunakan konstruksi baja ringan. Beliau juga penemu teori keretakan pesawat. Beliau juga disebut Bapak Pesawat Terbang Nasional. Beliau sangat jenius dan luar biasa.
Aku sangat mengagumi Prof. Habibie. Bahkan, kata Ibu, beliau adalah warga kehormatan di Jerman lho karena kepintaran dan kejeniusan yang beliau miliki di dalam otaknya. Ibu bilang, kalau pengen pintar seperti Professor Habibie, aku harus belajar mati-matian dan meninggalkan yang namanya TV. Waduuuuuhhh......bisa 'gak yuaaaah ?!?!?!
Awalnya, enggak percaya waktu Ibu bilang begitu. Setelah lihat filmnya di bioskop, eh ternyata bener lho. Professor Habibie itu mati-matian belajar dan bekerja supaya bisa seperti sekarang dan mendapatkan tempat sebagai warga kehormatan di negara asing.
Yang paling kocak adalah, saat Pak Habibie memuji Ibu Ainun dengan sebutan, "Gila kamu, sekarang jadi gula pasir."
Karena, dulu, Ibu Ainun dianggap jelek layaknya gula Jawa. Namun, setelah beliau dewasa dan menjadi wanita cantik, beliau layaknya gula pasir.
Mengangkat kisah cinta antara Pak Habibie dan Ibu Ainun selama 48 tahun dan meninggalkan kenangan yang begitu mendalam bagi Pak Habibie membuat film ini juga sangat menguras air mata. Apalagi waktu melihat Ibu Ainun mulai 'gak berdaya dengan aneka operasi yang harus dijalani untuk melawan kanker ovarium stadium IV. Aku ikutan sedih.
'Gak sadar air mataku juga ikut netes. Tapi kalau Ibu, justru menangis waktu Pak Habibie membelai pesawat N250. Lalu Pak Habibie berkata,
" Ku korbankan waktuku, Ainun, denganmu dan anak-anak hanya untuk ini. Tetapi, bangsa ini tidak percaya kalau mereka bisa mandiri. "
Disitu aku lihat Ibu netesin air mata. Waktu dirumah aku tanya, kenapa di bagian cerita itu Ibu menangis ? Ibu jawab kalau bangsa Indonesia masih juga belum mumpuni menerima orang-orang jenius dan segala penemuan teknologi yang tercipta. Juga enggak mau mandiri dengan hasil karya ciptaan anak bangsa. Maunya impor melulu. Segala yang berbau asing dianggap selalu bagus. Itulah yang bikin Ibu menangis.
" Kapan bangsa ini bisa menghargai orang-orang jenius dan semua hasil kerja kerasnya ? Kapan bangsa ini menghargai orang-orang pintar sehingga bangsa ini bisa melaju kayak roket ? "
Itu yang dibilang sama Ibu ke aku. Aku tidak terlalu mengerti permasalahan orang dewasa. Tapi yang aku tangkap dari keluhan Ibu kalau orang Indonesia itu enggak mau maju atau malah enggak maju-maju dan lebih seneng jalan di tempat ??
Terlepas dari permasalahan negara ini yang aku banyak enggak mengerti atau mungkin menunggu aku dewasa untuk melihat sendiri kenyataan buruknya bangsa ini, aku benar-benar ingin seperti Pak Habibie. Dan mimpiku ingin seperti beliau memang selalu didukung oleh Ibu yang sangat mementingkan pendidikan.
Ibu selalu bilang, akan melakukan apapun untuk membiayai segala keperluan pendidikanku. Yang penting, aku bisa menjadi orang hebat seperti Pak Habibie. Ibu juga bilang, kalau agama Islam mewajibkan setiap manusia untuk menuntut ilmu karena Allah akan menaikkan beberapa derajat orang-orang 'alim (berilmu). Dan orang-orang berilmu itu akan jauh dari kemiskinan. Karena kemiskinan itu adalah buah dari kebodohan. Jadi, kalau kita pinter, kita 'gak bakalan selamanya miskin.
Dari film ini juga, Pak Habibie bukanlah datang dari keluarga kaya raya. Beliau hanyalah anak janda yang cuman punya kontrakan. Tetapi, karena beliau pintar, makanya beliau bisa sekolah ke Jerman dengan beasiswa. Waktu diawal-awal karir beliau pun, tidak sedikit orang Jerman memandang rendah dan meragukan kemampuan beliau.
Karena, orang Indonesia sendiri aja masih mendatangkan ahli-ahli dari Jerman untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Bagaimana mungkin orang Indonesia justru malah yang menemukan metode dan teknologi baru untuk mengembangkan infrastruktur di negara Jerman ??
Tapi, itulah Pak Habibie. Beliau tidak banyak bicara tapi lebih banyak menunjukkan dengan hasil - hasil ciptaannya yang gemilang.
Ibu Ainun sangat mendukung segala mimpi-mimpi Pak Habibie untuk Indonesia. Bahkan, rela menyembunyikan penyakit kankernya dari Pak Habibie agar Pak Habibie bisa terus bekerja dan berkarya untuk Indonesia. Kesetiaan cinta ditunjukkan oleh Pak Habibie sewaktu dokter di Indonesia menyatakan ada kanker di tubuh Ibu Ainun. Saat itu juga, Pak Habibie, menelepon Duta Besar Jerman untuk segera mengeluarkan visa agar Ibu Ainun bisa segera mendapatkan perawatan di Jerman.
Menjalani 12 operasi yang menyakitkan selama 4 minggu berturut-turut, ternyata tak mampu membuat Ibu Ainun bertahan melawan kanker yang dideritanya. Tepat tanggal 22 Mei 2010, jam 17.30 waktu München, Jerman.......
Ibu Ainun menghembuskan nafas terakhir setelah melewati masa kritis 1 hari di Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat Klinikum Gro`hadern, München, Jerman.
Beliau meninggal diiringi ciuman dari Pak Habibie di dalam pelukan Pak Habibie dan setelah mendengar doa Pak Habibie,
Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya.
Terima kasih Allah, Engkau telah pertemukan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya.
Terima kasih Allah, Engkau telah menikahkan Ainun dan saya sebagai suami istri tak terpisahkan dimanapun kami berada sepanjang masa.
Terima kasih Allah, Engkau titipkan bibit cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat pada diri Ainun dan saya.
Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami dapat menyaksikan, merasakan, menikmati, dan mengalami titipanMU menjadi cinta yang paling murni, paling suci, paling sejati, dan paling abadi di seluruh Alam Semesta dan sifat ini hanya dapat dimiliki oleh Engkau Allah.
Salam suka,
Shancai Callista
Komentar
Posting Komentar
Berbicaralah yang sopan bila mau komentar. Kata-kata SARA akan dihapus dan tidak ditayangkan !!!